Powered By Blogger

Jumat, 20 Mei 2011

PERILAKU SEKS MENYIMPANG MENURUT PANDANGAN ISLAM


Pepatah mengatakan , “jika tidak ingin basah, jangan main air’,artinya: jika tidak ingin susah, jangan main pelacur. Tidak ada didunia ini yang benar-benar gratis.semua hal menuntut timbal balik,hukum fisika mengatakan ada aksi maka ada reaksi.begitu juga dengan kesenangan seks bebas, ia menuntut eksploitasi,kekerasan,turunnya harga diri, pengukungan mental, dan kesehatan badan.
Sudah menjadi rahasia umum bagi orang yang terbiasa jajan seks, selesai hasrat terpuaskan, uang melayang , kecemasan datang dan mungkin juga tersisa rasa berdosa, kondisi emosi seksual yang meminta pelayanan seks yang terus minta variasi dan kecemasan penyakit kelamin yang ditularkan dari hubungan seks.
Jika kita sadar bahwa yang paling memahami karakter bawaan manusia adalah yang menciptakannya, Sang Khalik, maka layaklah kita katakan standar bersikap dan bertingkah laku yang dimaksud adalah sesuai dengan batasan-batasan wahyu. Untuk ajaran Islam, penggunaan nalar dalam usaha memahami ajaran-Nya sekaligus melaksanakannya, sangat ditekankan. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah ) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al A’raf:179).
Dengan dasar ini,umat Islam memiliki kesempatan untuk mengkaji beragam pola hidup yang baik dan tidak baik dengan metode-metode yang dipahami akal. Sayangnya, manusia sering terjebak pada sikap terburu-buru dalam memutuskan mana yang baik , dan mana yang buruk. Disinilah pentingnya syariah, agar umat Islam tetap berada dalam batas boleh dan tidak boleh dilakukan, atau batas halal dan haram, dan tidak menggunakan standar boleh-tidak-boleh,baik-tidak-baik,yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Hal ini tiada lain guna terhindar dari penyesalan yang bakalan muncul belakangan.

SEKSUALITAS ABNORMAL


Apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal? Satu tema dalam psikologi abnormal dan kesehatan mental hingga sekarang belum dapat menentukan norma yang sah mengenai normalitas lawan abnormalitas, demikian ujar Malik B. Badri.
Setidaknya , ia katakan ada tiga sudut pandang yang daoat diterima secara umum:
Pertama, berdasar norma patologis. Sudut pandang ini secara sederhana menganggap abnormalitas sebagai suatu penyakit, atau gangguan yang ditandai dengan munculnhya simtom-simtom atau gejala klinis tertentu yang mudah dikenali. Dengan demikian orang yang normal dikatakan orang yang tidak memiliki simtom-simtom yang dimaksud. Akan tetapi , B. Badri mengatakan , kriteria ini tidak lepas dari kritik , bahwa orang yang bebas sama sekali dari simtom merupakan sesuatu ideal yang tidak terdapat dalam realitas.
Kedua,sudut pandang statistik. B. Badri mengatakan : Disini dipergunakan grafik atau pendekatan matematis. Konsep grafik pendekatan statistik ini digambarkan melalui penyebaran kurva normal, sehingga kita bisa mellihat bahwa kebanyakan orang tersebar di bagian tengah grafik. Pada kedua tepian kurve yang berbentuk lonceng ini menunjukkan orang-orang yang normal. Dari sudut pandang ini orang-orang jenius dan mempunyai kestabilan emosi sama dengan mereka yang kemampuan mentalnya berada dibawah normal dan menderita neurotik.
Ketiga, dari sudut pandang budaya. B. Badri mengatakan , dari sudut pandang ini definisi normal dan abnormal semakin samar. Hal ini dikarenakan kriteria normal dan abnormal distandarkan pada lingkungan sosial budaya tempat individu tinggal. Karena itu, B. Badri melanjutkan , satu tingkah laku di sebuah negara dikatakan abnormal bisa berubah normal hanya setelah beberapa jam perjalanan udara, atau bahkan setelah beberapa tahun berada pada tempat yang sama.
Dari sudut pandang inilah para psikolog mendefinisikan tingkah laku dan mentalitas seseorang.Seseorang dikatakan normal jika memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Memilliki persepsi yang efisien terhadap kenyataan.
  2. Mengenal diri sendiri.
  3. Mampu mengendalikan perilaku atas kehendak sendiri.
  4. Memiliki harga diri dan diterima oleh lingkungannya.
  5. Mampu memberi perhatian dan membina hubungan cinta kasih.
  6. Produtif.

Bagi umat Islam, ajarannya telah menetapkan apa yang layak dan apa yang tidak layak dilakukan manusia. Jika segala sesuatunya dilakukan dengan syariah, maka manusia dapat berfungsi sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Jika keluar dari syariah, maka manusia tersebut mengalami disfungsi sebagai insan.
Dengan demikian persepsi muslim tentang kriteria normal setidaknya memiliki ciri:
  1. Adanya kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Illahi yang memiliki kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan.
  2. Berkemampuan menempatkan diri sebagai khalifah dimuka bumi dengan berperan sebagai rahmat bagi semesta alam.
  3. Memiliki kondisi mental yang tamyiz(memiliki kesadaran terhadap realita, benar atau salah) berupa: aktivitas hidupnya didasari iman, takwa dan amal saleh dengan ciri bergairah dan tenang-harmonis batinnya,efisien dalam setiap tindakan , memiliki integrasi dan regulasi terhadap struktur kepribadiannya, dan ada koordinasi dari segenap usaha dan potensinya.
Dari definisi diatas, ada tiga aspek yang dilingkupi: kondisi jasmani/tubuh, kondisi rohani,serta kondisi tingkah laku sebagai resultan antara jasmani dan rohani. Kondisi tidak normal dan gagal berfunngsi bisa saja berasal sejak lahir atau akibat aktivitas hidup, akibat kecelakaan, terpengaruh lingkungan dan lain-lain. Kondisi tidak normal sering kali dapat dirasakan orang tersebut sebagai kondisi yang tidak memuaskan, mengganggu dirinya atau orang lain.
Dalam hal seksualitas abnormal, kondisi di atas bisa menjadi penyebab. Banyak keluhan seksualitas disebabkan oleh aktivitas hidup, entah dialami semasa kecil, atau ketika dewasa. Bentuknya dapat berupa perlakuan yang tidak layak, seperti perlakuan kasar, kejam, atau yang menghambat tumbuh kembangnya. Dapat juga berupa tekanan emosional . penghinaan,kecaman atau pengaruh media.
Dengan banjirnnya informasi, manusia yang tidak memiliki karakter atau tidak memiliki jati diri yang teguh akan mudah terombang-ambing keadaan. Sekali lagi, bagi umat Islam hubungan seks yang normal adalah hubungan seks yang dibolehkan dalam Islam dan hubungan seks abnormal adalah hubungan seks yang terlarang dalam Islam atau bertentangan dengan fitrah manusia. Baginya, setiap kegagalan diterima jiwa besar, dan setiap keberhasilan diterima dengan syukur kepada yang memberi, bukan besar kepala pada diri sendiri.
  1. ABNORMALITAS SEKS DILIHAT DARI HASRAT SEKS DAN DERAJAT KEPUASANNYA
  • Prostitusi/pelacuran
Menurut Dra. Kartini Kartono pelacuran merupakan bentuk penyimpangan seksual, dimana terdapat pola organisasi impuls-impuls/dorongan seks yang wajar. Ada dorongan seks yang tidak terintegrasi dalam kepribadian, dengan mana relasi sseks itu sifatnya impersonal, tanpa afeksi dan emosi (kasih sayang), berlangsunng cepat, tanpa mendapatkan orgasme di pihak wanita. Seks dijadikan barang dagangan sehingga terjadi komersialisasi seks, berupa penukaran keniukmatan seksual dengan benda/materi dan uang. Ada pelepasan nafsu seks tersebut dengan banyak orang.
  • Promiscuity
Suatu pola hubungan seks bebas yang ekstrim, dengan banyak pasangan dan siapa saja. Wanita yang melakukan promiscous disebut amatrice, sedang untuk pria disebut amateur.
  • Perzinahan (Adultery)
Merupakan hubungan seks yang dilakukan seorang yang telah terikat pernikahan dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya.
  • Seduksi dan perkosaan
Seduksi merupakan bentuk bujuk-rayu seseorang untuk berbuat mesum. Biasanya terjadi dengan alasan pembuktian cinta.Sedangkan pada peristiwa perkosaan, sang pemerkosa selalu didorong oleh nafsu-nafsu seks sangat kuat, dibarengi emosi-emosi yang tidak dewasa dan tidak mapan. Biasanya dimuati oleh unsur-unsur kekejaman dan sifat sadistis.
  • Nimfomania
Merupakan kondisi wanita dengan nafsu seks yang luar biasa (hyperseks), dan selalu berkeinginan melampiaskan nafsu seksnya berulang kali. Seks bagi wanita ini telah menjadi candu. Sedangkan istilah yang dipakai bagi kaum laki-laki yang mempunyai hasrat seks yang terlalu menggebu-gebu atau hiperseksualitas disebut satyriasis.

  • Frigiditas
Adalah wanita yang tidak atau kurang berkeinginan seks. Wanita tersebut tidak mampu menghayati proses cumbu rayu dalam bersenggama dan pada akhirnya sulit mencapai orgasme.
Pemecahannya adalah disesuaikan dengan penyebab timbulnya gangguan. Jika karena gangguan organis, maka pengobatan merupakan jalan keluarnya. Jika karena gangguan psikologis , merubah pola hidup yang sehat , dengan menghindari tekanan kehidupan atau menggali ketentraman jiwa lewat pendekatan kepada Allah SWT adalah alternatif yang terbaik, bukankah Allah berfirman : “( yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram ( Ar Ra’d:28).”
  • Vaginismus
Ialah peritiwa kontraksi atau peregangan, pengerasan yang datang tiba-tiba ketika penis melakukan penetrasi yaitu pada bagian distal vagina. Jika penegangan sangat kuat, bisa terjadi penis yang masuk “terjepit” dengan kuat hingga tidak dapat keluar dari vagina. Peristiwa ini distilahkan “penis captivus”.

  • Impotensi
Adalah pria yang tidak dapat melakukan senggama meskipun ada keinginan, akibat penis tidak mampu ereksi atau tidak mampu mempertahankan ereksinya.Seorang pria dikatakan mengalami impotensi jika telah mengalami dari tiga kali kegagalan dalam usaha senggama.

  1. ABNORMALITAS SEKS DILIHAT DARI PASANGANNYA

  • Homoseksual
Homoseksualitas merupakan rasa tertarik dan mencintai pada kelamin sejenis. Untuk kaum pria dikenal sebagai “gay” sadangkan pada wanita disebut “lesbian”.
Dalam hal ini Allah telah menggambarkan pada masyarakat Nabi Luth dan bukan tidak mungkin sejarah akan terulang kembali.
Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan homoseksual/fashisyah itu sedangkan kamu memperlihatkannya?’Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita?Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu). Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan :’Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu: karena sesunggunya mereka itu orang-orang yang (menganggap dirinya) bersih.” (an Naml:54-56).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar